Kamis, 26 Februari 2009

dreams for fairytale

Hujan yang turun sejak tadi membuat suasana senja ini terasa lebih kelabu dari biasanya. Aku yang baru saja membuka café-ku pun masih enggan beranjak dari salah satu bangku yang sengaja ku jajar di tepi jalan senja itu. Lampu jalan yang menyala seadanya membuatku makin enggan bangkit, kalau saja mataku tak menemukannya. Seorang perempuan dengan gaun hitam yang anggun, yang mungkin sejak lama berdiri disana. Kulit putihnya yang mulus tampak pucat karena dingin yang beku dengan leluasa menjelajahi tengkuk dan kakinya yang terbuka, sementara bibirnya yang berploles lipstick peach terkatup beku. Aku tak tahu apa yang selama ini dipandanginya. Matanya yang indah hanya menatap kosong ke jalanan yang lengang, sementara rintik hujan sesekali memantul ke ujung sepatunya. Tangannya nampak bergetar menahan dingin yang semakin lama semakin terasa menyebalkan. Mungkin mengatupkan tangan saja tak cukup untuknya melawan dingin yang menyiksa. Aku terusik dengan keadaannya. Jadi kuputuskan saja untuk menawarinya berteduh di sidewalk café-ku, mungkin secangkir cappuccino atau mocca latte akan sedikit memberi rasa hangat untuknya.
Aku tak tahu harus memulai dari mana. Tiba tiba saja aku kehilangan kata kata saat matanya bertemu pandang dengan mataku yang berpayung beberapa meter darinya. Matanya tidak menatapku sinis, juga tidak mengiba. Matanya hanya bertanya. Pertanyaan yang aku sendiri pun bingung harus kujawab apa. Tiba tiba segalanya terasa datar, sedater matanya yang melemparkan sebuah tanya padaku.
“Saya Lintang, yang punya sidewalk café disitu. Apa kamu menunggu seseorang?” kataku. Setiap kata sengaja kuucapkan dengan lambat, karena mungkin saja perempuan itu tak bisa memahami kata kataku. Entah mengapa, tiba tiba saja aku merasa seperti maniak aneh yang biasa menggoda gadis gadis muda yang tengah berjalan sendirian seperti dia. Aku jadi agak jijik dengan diriku sendiri. “Kamu boleh duduk disana, kalau kamu mau…”
Perempuan itu masih membisu. Matanya masih saja menatapku dengan tanya. Tiba tiba saja aku merasa semua yang kutakutkan terjadi. Perempuan itu tak memahami bahasaku. Mungkin dia memang bukan orang Indonesia seperti aku. Mungkin aku salah menyapanya. Mungkin sekarang Ia berpikir bahwa aku adalah orang Indonesia aneh, bodoh dan menakutkan. Dan mungkin saja sebentar lagi Ia akan berteriak, dan orang orang akan datang mengerumuni kami berdua. Dan besok fotoku akan terpampang besar besar di halaman pertama Koran lokal sebagai orang aneh yang suka mengganggu perempuan yang berdiri sendirian di dekat café-ku. Sebaiknya kuluruskan dulu masalahnya sebelum semuanya menjadi semakin buruk.
“Sorry. I thougt that you’re Indonesian. So I speak in Indonesia. My name is Lintang, the owner of that sidewalk café. You can sit there if you want. Are you waiting for someone or…” dengan cepat kata kata itu meluncur dari bibirku. Aku tak mau ada keributan didepan café-ku. Ini sudah ketiga kalinya aku terpaksa berpindah tempat untuk tetap menjalankan usahaku. Kalau sampai terjadi keributan sekali lagi, bukan hanya dilarang membuka café disini, bisa bisa aku dideportasi ke Indonesia. Kalau sampai itu terjadi, bagaimana dengan kuliahku yang sebentar lagi selesai? Juga Clara, kekasihku yang rencananya akan kunikahi begitu aku menyelesaikan desertasiku dan membawa pulang ijazahku, mimpi kedua orang tuaku.
“Nggak papa. Aku memang orang Indonesia kok. Tapi bukan asli Indonesia. Namaku Sekar…” akhirnya keluar juga kata kata yang sekian lama aku tunggu meluncur dari bibir berpoles lipstick peach itu. “Kita ngobrol disana aja, kalau kamu nggak keberatan” sorot matanya yang melunak membuatku merasa sedikit lega. Setidaknya aku tidak salah menyapanya.
Namanya Sekar. Dan dia memang orang Indonesia, seperti yang sudah aku duga. Menurut pengakuannya, Ia belum lama berada di kota ini. Dan mungkin menang tak lama. Pekerjaannya sebagai fotografer freelance membuatnya tak pernah lama tinggal di suatu tempat. Sementara kuliahnya di salah satu universitas swasta terkemuka di kota ini tak pernah mengharuskannya hadir dan mengikuti pelajaran sebagaimana layaknya mahasiswa di Negara asalku, Indonesia.
“Ini ekspedisi patah hati…” gumamnya pelan setelah menyeruput mocca latte yang baru kuhidangkan untuknya. Sedikit rona merah terbayang di wajah pipinya saat uap mocca latte itu menyapu wajah pucatnya. “Kota ini menyimap banyak kenangan buatku dan dia. Aku tak pernah bisa berlama lama tinggal di kota ini, karena rasanya setiap tembok, awan, angin, bunga, juga hujan terus terusan meneriakkan namanya. Menghidupkan kembali kenangan kenangan tentangnya yang selama ini berusaha kukubur dalam dalam…” kata katanya terasa ringan dan bersayap, terbang dan hinggap ditelinganya, juga telingaku. Ada sedikit nada kekecewaan dalam kata katanya. Sementara gumpalan air mata mulai memenuhi matanya sayunya yang lelah. Aku tak tahu lagi harus bicara apa.
“Haha, buat apa membicarakan cerita lama. Sudah lupakan saja, tak ada gunanya juga kamu tahu tentang dia. Mungkin malah membuat kamu semakin takut padaku. Ngomong ngomong, tadi aku menakutimu ya? Maaf ya…” katanya sambil terkekeh pelan. “sudah, sekarang ceritakan saja tentang kamu..” lanjutnya, sambil menatap tajam ke manik mataku yang masih asyik menikmati keindahan yang tersaji dihadapanku. Aku tak akan munafik, aku laki laki normal. Wajar saja kalau aku suka berlama lama menjelajahi seluruh tubuhnya dengan mataku. Semuanya Nampak begitu sempurna, seperti patung pualam yang dipahat dengan sempurna dan penuh perasaan.
“Ehm, yaa…” aku tak tahu harus bicara apa. Aku biasa saja. Hanya mahasiswa perantauan yang cukup beruntung. Berkesempatan kuliah sambil membuka usaha kecil kecilan untuk mengisi waktu luang. Mungkin setelah desertasi-ku selesai, aku akan menikah dengan Clara, teman sekelasku disini. Mungkin kami akan pulang sebentar ke Indonesia, lalu menetap disini. Ya, doakan saja semuanya lancar…” entah mengapa tiba tiba saja hal itu yang meluncur keluar dari mulutku. Padahal biasanya tak semudah itu aku berakrab akraban dengan orang asing. Lagipula menurutku pernikahan bukanlah hal yang pantas dibicarakan dengan seorang perempuan yang sedang patah hati seperti dia.
“Wah, selamat ya…” diluar dugaan, Ia malah mengangkat gelasnya dan mengajakku ber-cheers untuk keberuntungan yang kumiliki dengan Clara. “Namanya cantik, pasti secantik orangnya. Kamu laki laki yang beruntung” katanya. Aku menagkap sedikit nada sinis dalam ucapannya barusan. Tak apa, aku bisa memahaminya kok. Mungkin Ia iri dengan Clara-ku yang tak perlu berkeliling dunia untuk mengobati sakit hatinya seperti dia. Mungkin juga Ia iri padaku yang nampaknya punya segalanya yang baik, semetara Ia harus bersusah payah mengumpulkan keping demi keping kisah hidupnya yang terserak kemana mana. Tak apa, toh aku juga salah membicarakan hal ini dengannya.
Mata sayunya kembali berembun, sementara hujan yang turun sepertinya belum ingin berhenti mengunci kami berdua dibawah payung ini. Beberapa kali kulihat Ia mengerjapkan matanya, mungkin berusaha mengusir air mata yang datang begitu saja mengganggu pandangannya. Aku hanya bisa diam dan menanti apapun yang akan terjadi selanjutnya. Aku tak ingin bicara. Aku takut menyinggungnya sekali lagi.
“Kamu nggak papa?” tanyaku pelan. Entah mengapa tiba tiba aku mengkhawatirkannya. Aku juga tak tahu kenapa aku harus mengkhawatirkannya. Rasanya Ia terlalu kuat untuk ku khawatirkan. Aku jadi merasa bodoh.
“Aku baik baik saja. Hanya saja nama itu membuatku teringat akan gadisku…” Ia sengaja menggantung kata katanya. Mungkin Ia menanti reaksiku, apa saja, sebelum Ia memutuskan untuk melanjutkan atau menghentikan ceritanya. Aku hanya bisa menatapnya. Sudah terlalu banyak kejutan yang Ia berikan untukku hari ini. Aku tak menyangka, sebaris kata kataku membuatku memasuki pusaran mimpi mimpinya yang masih mengejawantah mencari satu kepingan yang hilang terbawa gadis sari masa lalunya.
“Namanya Ciara. Mirip nama kekasihmu kan?” katanya sambil tertawa pelan. Entah mengapa, aku merasa tawanya kali ini mirip tawa penyihir jahat yang bangkit dari dongeng masa kecilku, yang berencana menghancurkan kebahagiaan sang pangeran dan putri-nya hingga kekuatan cinta memenjarakannya selamanya dalam buku buku bergambar usang milik keponakanku yang sampai sekarang masih sering dibacanya sebelum tidur. Aku jadi begidik sendiri. Tanpa sadar aku mengusap usap tengkukku yang sepertinya baru saja dilintasi angin dingin yang aneh. Kini aku merasa ada semacam aura menyeramkan yang berpendar di sekelilingnya.
“Kamu takut padaku?” tanyanya tiba tiba, seolah Ia bisa membaca pikiranku dengan mudah seperti membaca buku yang terbuka. Aku menggeleng pelan. Aku tak yakin dengan apa yang kurasakan. Aku memang takut padanya. Ia membuatku seakan terputar putar dalam pusaran angin yang berdebu hanya dengan bicara dengannya.
“Haha, taka apa kalau kamu memang takut padaku. Akui saja, toh aku memang menakutkan ‘kan? Berkeliaran ditengah hujan dengan gaun hitam pendek. Seperti penyihir dalam buku cerita anak anak, hanya mungkin gayaku lebih modern dari mereka…” katanya ringan. Lagi lagi Ia mengucapkan dengan tepat apa yang kupikirkan.
“Ah, enggak kok. Biasa aja. Lalu, bagaimana dengan Ciara-mu?” elakku cepat, sambil mencoba mengalihkan pembicaraan. “Apa kamu masih sering merindukannya?”
“Ciara…” katanya separuh bergumam. Matanya menatap kosong kedalam cangkir mocca latte yang sudah separuh kosong, sementara bibirnya menyunggingkan senyum yang aneh sepanjang ceritanya. “Dia yang membuatku jatuh cinta. Dia yang pelan pelan membuatku memasuki dunianya yang tak berujung, seperti alice in wonderland yang mengikuti kelinci pesta yang melompat kedalam lubang pohon, dan akhirnya tersesat didalamnya. Berdua kami menikmati dongeng compang camping yang kami bangun bersama. Kami tak pernah peduli dengan pandangan orang orang disekitar kami yang mungkin mulai mengendus keanehan dalam hubungan teman sekamar kami di asrama putri SMA-ku dulu. Ciara…” Ia berhenti sebentar, sementara matanya yang makin basah kini menatap langit, sambil mengerjap pelan, berusaha mengusir air mata yang lagi lagi datang mengganggu ceritanya. Aku pun larut dalam sisi lain dongeng masa kecil yang Ia suguhkan padaku.
“Kami berhasil menyimpan kisah cinta kucing kucingan kami dengan rapi sampai aku berhasil lulus dari SMA putri yang mempertemukanku dengannya. Segalanya berjalan dengan sempurna, sampai suatu saat orang tuanya memergoki kami berdua bermesraan dalam kamarnya” mata lebarnya yang sayu itu kini beralih menatap mataku. “Kamu tahu apa yang terjadi berikutnya?” seperti seorang bocah umur lima tahun yang terbius dengan dongeng yang manis, aku menggeleng pelan. Ia tampak puas dengan jawabanku, lalu kembali melajutkan ceritanya.
“Tanpa banyak bicara orang tuanya langsung menyeret kami berdua ke ruang tengah, lalu dimulailah opera itu…” Ia kembali berhenti sejenak. Entah mengapa, kisahnya yang sama sekali tak manis itu membuatku terpikat, hingga aku tak bisa berhenti sebelum mendengar ujung ceritanya yang berliku liku. “Orang tuanya sangat malu dengan kelakuan kami berdua. Tanpa pikir panjang lagi, mereka memaksanya menikah dengan laki laki pilihan orang tuanya. Laki laki yang aku yakin tak lebih baik dariku yang dengan tulus mencintai putri tunggal mereka…” aku masih menatap kagum padanya. Sementara malam semakin pekat, dan hujan semakin mederas membasahi jalanan yang terbentang sepi disamping kami.
“Mati matian aku berusaha membelanya dihadapan orang tua dan keluarga besarnya. ‘Menikahkannya dengan laki laki yang bahkan belum pernah dikenalnya tak akan menyelesaikan masalahnya’, begitu kataku waktu itu. Tapi sepertinya keluarganya sudah terlalu shock dan marah hingga mereka tak bisa lagi mendengarkan siapapun. Apalagi mendengarkanku yang noabene telah membuat anaknya jadi seorang aneh seperti itu…” Hubungan yang ‘tak sepantasnya’, yang ditentang keluarga besar mereka berdua, membuat mereka berdua nekat datang datang kemari untuk melegalisasi cinta mereka,simpulku sendiri. Tapi sepertinya cinta mereka tak cukup kuat untuk membuat mereka terus bersama selamanya…
“Aku berjuang sendiri disini, bekerja sambil kuliah untuk terus menghidupi dia dan masa depan kami yang nyalanya semakin redup diredam keadaan. Aku tak pernah menyangka sore itu dia akan meninggalkanku dengan cara yang benar benar menyakitkan. Dia bahkan tak sempat mengucap kata perpisahan buatku. Dia hanya pergi dengan cara yang misterius, sama seperti caranya datang dengan misterius ke hidupku yang sepi…”
“Kamu tak berusaha mencarinya?” aku sendiri tak tahu kenapa tiba tiba kata kata itu meluncura dari bibirku. Ia mengalihkan matanya dari cangkir mocca latte yang hampir kosong lalu menatap mataku dengan senyum mengejek.
“Mencarinya? Mencarinya katamu? Apa menurutmu aku tak mencarinya dengan keliling dunia seperti ini? Dengan menyusuri jalan demi jalan yang sepi, berharap suatu saat aku akan menemukan jejaknya dan kami akan kembali bersama, mengakhiri kisah ini dengan happy ending seperti dongeng dongeng yang biasa kudengar dimasa kecilku, begitu?” tiba tiba saja nada suaranya meninggi, jelas dia tersinggung mendengar kata kataku. “ah, sudahlah…”
Hujan mulai reda, sementara malam makin larut. Aku tak pernah ingin beranjak, kalau saja perempuan itu tak beranjak dari kursinya, lalu meninggalkan sejumlah uang dan senyuman yang menggantung aneh di bibirnya…
***
“Lintang, wake up! It’s late, you have to sleep. Don’t push yourself too hard like this…” kata kata Clara yang baru saja pulang dari kuliah malamnya membuatku tersadar dari pusaran mimpi yang hampir saja menelanku bulat bulat kedalamnya.
“Mmh… I have to finish this story first” kataku, lalu bersiap menulis lagi.
“No, you don’t have to. You have to sleep now. You can finish it tomorrow. Come on…”
“But…”
“Don’t arguing me, Lintang! Turn off your computer and go to your bed, right now!” aku tak sanggup melawan Clara yang dengan tegas memaksaku beristirahat, sementara dengan cekatan Ia menyimpan tulisanku, lalu tanpa ampun mematikan komputerku. Aku masih sempat melirik sebentar kedalam layar computer yang gelap, sebelum Clara mematikan lampu ruang tengah dan mendorongku keluar dari sana.
Aku masih sempat terjaga beberapa ment sebelum mimpi mimpi tentang Sekar kembali membawaku kesana. Ah, andai saja aku sempat menulis sedikit kaliam penutup untuk kisahnya, mungkin Sekar tak akan selamanya berkelana dalam dunia kata kata, mengumpulkan mimpinya yang terserak, lalu menyusunnya dengan hati hati untuk dirinya sendiri. Mungkin… Akhirnya aku kembali terlelap dalam mimpi.
… and they live happily ever after.

bunuh diri

Sore itu aku terbangun dengan selimut kabut dingin yang dari tadi serasa menusuk nusuk tulangku. Hujan di luar semakin keras menderu, menghembuskan angin lembab dan menguarkan aroma tanah basah yang harum. Suara berisik dan lalu lalang itu terdengar semakin keras di sekitarku. Aku muak. Kutatap langit langit kamarku yang kusam. Kupandangi ruangan 3x4 yang sudah tiga bulan ini menjadi tempat tinggalku. Sama sekali tak mirip tempat tinggal manusia, batinku. Kubiarkan angin dingin itu menusuk nusuk tubuhku sedikit lebih lama lagi. Aku enggan bangun. Aku enggan menghadapi tatapan mata beringas dan tubuh kotor berdaki itu menyorakkan namaku. Aku jijik dengan jemari kasar dan kuku kuku hitam yang tiap saat menjelajahi tubuhku dengan bebas. Mengisi pundi pundiku dengan setumpuk recehan yang mereka kais di pelabuhan demi mendapatkan sedikit kenikmatan cinta yang becek dan berlendir dalam bilik bersekat triplek di kiri kanan kamarku.
Kucoba menghela tubuh dari kasur keras yang menjadi alas tidurku. Nyeri yang menusuk nusuk itu kembali datang menghampiriku. Kupejamkan mataku untuk sedikit mengurangi rasa sakit itu. Kepalaku pening. Pandanganku seolah menjadi ringan dan bersayap, berputar putar di sekeliling kamarku. Aku mencoba berdiri, namun gagal. Kakiku terlalu lemah untuk menopang tubuh indah yang rapuh ini. Aku tahu, aku butuh istirahat. Istirahat total yang lama untuk menyembuhkan lukaku dan kembali menemukan esensi diriku yang sudah sangat lama tenggelam oleh hiruk pikuk jalanan pinggir kotaku.
Nyeri itu muncul lagi di belakang kepalaku. Rasa sakitnya begitu menusuk. Singkat dan dalam,membuatku tak lagi mampu berpikir dan memakna dengan otakku. Sudahlah, itu lebih baik daripada aku harus merasa sakit lagi di jiwaku, seperti saat sebuah kehidupan yang mengalir dari separuh keping hatiku tercabut dari situ.
Kusingkapkan selimut tipis yang dari tadi menutup tubuhku. Sontak kurasakan terpaan angin dingin yang menyusup dari celah celah kecil dinding kamarku. Kubiarkan sebentar kulitku berakrab akrab dengan dingin itu. Biarkan ia menjelajah tubuhku. Menyelinap ke balik tanktop dan celana dalamku. Membelai tiap inci tubuhku dengan sunyinya yang beku. Biarkan semaunya dia menikmatiku. Bukankah selama ini dia pelanggan paling setia-ku? Dia yang datang tanpa dibatasi waktu. Dia yang datang tanpa kenal hari dan musim. Yang dengan setia membelaiku saat aku sedang meringkuk kalah atas tamu bulananku. Yang dengan lembut menghembus air mataku. Membawanya pergi jauh, entah kemana.
Ah, mungkin dia jelmaan kekasihku. Anak anak imajiku yang dengan lembut selalu datang membelai rambut kusutku. Mengusap pipiku dan mengecup lembut bibirku. Mungkin juga ia reinkarnasi dari kehidupan yang pernah tercabut paksa dari jiwaku. Akumulasi dari mimpi mimpi dan khayalan yang tanpa henti kuterbangkan tiap malam, entah demi siapa.
Kudengar ketukan kelas di pintu kamarku. Aku tahu, aku harus bergegas. Membalut tubuh rampingku dengan loose dress warna kunung gading, lalu memulas wajahku dengan make up nuansa keemasan seperti biasanya. Berkali kali kupejamkan mataku untuk menahan air mata yang mendesak turun. Cukup, aku sudah lelah dengan itu semua. Ini keputusanku, aku akan mengakhiri semuanya.
Tirai hujan mendekapku dalam dinginnya yang merapat. Menyisakan jejak jejak basah di sekujur tubuhku. Tak kuhiraukan panggilan teman temanku yang dengan panik berlari lari mengejar di belakangku. Sudahlah, biarkan aku bersatu dengan cinta sejatiku. Bersama menyusur jalan, bermain air dan menyapa rerumputan yang menghijau dibawah jemari kakiku.
Pengantinku, aku datang. Peluk aku dalam dekapmu. Kini kita berdua akan menjadi satu. Jangan pernah tinggalkan aku. Aku mencintaimu...
”Bertahan Lang, kita panggil bantuan!” itu suara terakhir yang kudengar sebelum keruhnya air sungai ciliwung memenuhi paru paruku. Aku tak akan melawan kasihku, kini aku milikmu. Hanyutkan aku, mabukkan aku. Aku mencintaimu...

HEADLINE NEWS
Seorang gadis ditemukan bunuh diri semalam dengan cara menceburkan diri ke sungai ciliwung. Saat ditemukan, gadis tersebut mengenakan loose dress kuning gading dan menggenggam seikat bunga mawar. Alasan mengapa korban bunuh diri masih diselidiki polisi. Dugaan sementara, gadis itu mengalami gangguan jiwa.

Minggu, 22 Februari 2009

Kata orang, wanita adalah ciptaan Tuhan yang paling indah. Karena itu, banyak orang mengibaratkan wanita mereka seperti bunga. Bunga mawar, melati, kenanga, anggrek, atau bunga apapun yang berwarna indah dan berbau harum. Tapi pernahkah mereka sadari bahwa keindahan dan kecantikan bunga bunga itu hanya sementara? Pada akhir masanya, bunga itu akan kehilangan wangi juga warna indahnya yang menggoda. Pada saat itu, bunga takkan lagi dianggap sebagai sesuatu yang indah bagi orang orang di sekitarnya. Itukah wanita yang adalah ciptaan Tuhan yang paling indah?

Aku suka mengibaratkan perempuanku sebagai pohon beringin. Bukan karena dia tak cantik walau dia memang tak terlalu cantik. Lang cukup enak dilihat sebagai seorang gadis afro. Kulitnya tak terlalu hitam, dengan rambut berombak yang selalu dipotong pendek dan wajah yang spesifik buatku. Bukan juga karena gadisku tak wangi walaupun aku sering mencium aroma vanilla dari tubuh dan rambutnya yang tak pernah bisa tampak cukup rapi buatku.

Perempuanku memang tidak seperti putri putri yang datang dari negeri dongeng. Baju kebangsaannya hanya kaos dan celana jeans belel. Alas kakinya juga hanya sneakres coklat muda yang tak kalah kucel dengan dirinya. Dia tak pernah ribut dengan tren masa kini atau make up macam macam yang biasa diributkan para gadis pada umumnya. Gadisku memang luar biasa. Dia indah dengan caranya, tapi juga menarik dengan cara orang orang umumnya.

Perempuanku tak pernah mengeluh jijik atau capek karena menemaniku berjalan jalan keliling kota dengan motor bututku, duduk makan di cafe tenda pinggir jalan atau sekedar mencangkung sore di balai pemuda. Dia memang perempuanku yang terliat.

Aku tak pernah peduli dengan kata orang tentangnya. Apapun yang orang bilang, dia akan tetap jadi perempuan terbaik kedua dalam hidupku, setelah ibuku. Buat dia, aku selalu mencintaimu. Dimanapun kamu berada sekarang. Seperti katamu, cinta kita abadi.

perempuanku

Aku bingung. Sudah sekian kali aku mengajak kekasihku yang janda itu menginap di rumahku. Tapi jawabannya selalu sama. Maaf, terimakasih, aku nggak mau ngerepotin… padahal dia sama sekali nggak merepotkan buatku. Menyenangkan malah. Sebagai seorang eksekutif muda yang sukses, rumah dan apartemenku ada dimana mana. Dia boleh memilih, mau tinggal dimana. Di tengah kota, di pegunungan, di daerah yang sepi, yang mana saja, silakan. Mau melakukan apa saja, silakan saja. Toh tak ada yang melarang. Tapi kenyataannya dia selalu menolak.

Aku heran, apa kurangnya aku buat dia. Aku bersikap sangat baik dan selalu pengertian padanya, nggak seperti mantan suaminya yang nggak tau diri itu. Kapanpun dia meneleponku, aku akan langsung meng-iya-kan apapun maunya. Lunch, shopping, jalan jalan atau sekedar mendengar curhat-nya yang baru saja bertengkar lagi dengan mantan suaminya. Semua-ku untuknya. Jadi wajar dong kalau aku juga menginginkan semua-nya untukku.

Kekasihku yang janda itu memang sempurna. Walaupun embel embelnya janda, penampilannya sama sekali jauh dari kesan janda yang desperate atau kesepian. Rambutnya yang panjang dan selalu wangi biasa digelung rapi diatas kepala. Tubuhnya yang sexy juga selalu terbalut pakaian pakaian mahal yang mewah, dan menurutku itu cocok sekali untuknya. Kakinya yang indah juga tak pernah lepas dari sepatu hak tinggi yang mempercantik penampilannya setiap saat. Jadi, wajar kan kalau aku sebagai laki laki normal menginginkan dia malam ini ada di ranjangku?

Memang ranjangku tak pernah sepi dari gadis gadis yang rela menyerahkan semua-nya untukku. Gadis yang seperti apa sih yang belum aku coba. Dari yang xtra large sampai yang super-thin seperti model model catwalk sudah semua. Dari yang gratis sampai yang super mahal juga sudah pernah kucoba. Tapi itu saja tak cukup untuk memuaskan ego-ku. Buktinya, aku masih menginginkannya. Masa’ yang bukan apa apaku saja mau melayani semua mauku, tapi kekasihku sendiri menolakku mentah mentah seperti ini? Lagaknya seperti perawan saja. Seperti ABG yang malu malu karena tak tahu apa apa. Dia kan sudah janda, harusnya sudah berpengalaman dong? Apa sih susahnya menemaniku, semalam saja. Toh tidak akan ada yang peduli.

Maka tak berlebihan agaknya, kalau siang ini aku sibuk memikirkan satu cara halus untuk ’memaksanya’ berkencan denganku. Semakin dia menolakku, semakin aku penasaran dengan dirinya. Apa sih yang spesial darinya? Otakku sibuk memikirkan cara untuk mendapatkannya. Pokoknya, apapun yang terjadi, malam ini aku harus menjalankan rencanaku dan mendapatkannya di ranjangku.

Kekasihku yang cantik tak curiga saat aku menjemputnya malam ini. Alasanku mengajaknya dinner juga agaknya cukup masuk akal baginya. Padahal, tak biasa biasanya aku mengajaknya pergi secara mendadak begini. Ah biar saja, batinku. Pokoknya malam ini aku akan mendapatkannya. Itu saja yang penting buatku. Kekasihku yang cantik juga tak curiga saat aku membelokkan mobilku masuk ke salah satu apartemenku, bukannya ke restoran atau mall seperti biasanya. Senyumnya tetap manis, sikapnya tetap lemah lembut.

Aku sudah menyiapkan ranjang terindah untuknya. Ranjang dengan taburan kelopak mawar merah untuk kekasihku yang teristimewa. Juga makanan ter-enak dan anggur ter-baik untuknya. Tenang sayang, ini malam kita. Takkan ada seorang pun yang mengganggu. Serahkanlah dirimu padaku sayang, penuh pengabdian seperti mereka mereka yang sudah lebih dulu melakukannya untukku. Aku tak akan menyakitimu, karena aku mencintaimu, selalu.

Begitulah, malam itu terlewati dengan begitu indah. Kekasihku memang yang paling sempurna. Dia begitu indah. Begitu kuat,tapi juga lembut. Begitu penuh pengabdian, tetapi juga menuntut kesempurnaan. Sungguh, malam ini takkan pernah kulupakan. Aku tertidur karena rasa puas dan senang yang amat sangat.aku berhasil menaklukkan perempuanku. Aku berhasil membuat dia menyerahkan dirinya untukku.

Namun aku salah. Aku salah menilai kekasihku. Kekasihku yang indah dan sempurna dengan caranya. Pagi itu aku terbangun karena aroma kopi hitam yang menusuk disamping ranjangku. Semula kupikir dia akan mengecupku, atau menamparku, atau memelukku, atau memakiku, atau malah menyiramkan kopi hitam-nya padaku. Tapi ternyata dia pergi, entah kemana. Dia tak meninggalkan satu pesanpun untukku. Dia hanya meninggalkan aroma tubuhnya yang khas di ranjangku yang sepi. Saat itu aku menyadari, bukan dia yang menyerahkan dirinya padaku. Tapi aku yang memberikan penyerahan diriku yang sempurna padanya. Pada kekasihku.

Senja

Senja dan secangkir kopi di atap apartemenku.
nyaman rasanya, setelah seharian bergelut dengan kesibukan harianku.
menyesap kopi sambil memandangi padatnya jalanan pinggir kota di bawahku.
menatap satu per satu orang yang lalu lalang dengan kesibukan masing masing, yang seolah tak perduli satu sama lain.
Otekku kembali memutar cerita lamaku dengan Mario.
Seorang pria tampan dengan tubuh atletis dan pekerjaan yang mapan.
Dulu, Ia yang menemaniku menyusuri trotoar jalan itu.
Ia yang dengan senang hati menggandeng tanganku.
Menuntunku menyusuri lorong demi lorong menuju dunia yang bahkan tak kupahami maknanya saat itu.
Menenggak gelas demi gelas minuman hingga aku semakin mabuk dalam pelukannya.
Tak lama, hanya sebentar.
Hanya sebentar,sampai aku menyadari dia telah meninggalkan bebek buruk rupa dengan sebelah sayap yang patah sendirian di antah berantah.
Hingga aku tertatih-tatih sendiri untuk kembali.
kembali ke duniaku yang nyaman dan jauh dari gangguan.
Kembali membenamkan wajahku yang sembab karena terlalu sering menangis dalam pelukan seorang gadis ketuurunan Afrika yang penyabar.
Yang dengan sangat setia mendengar keluh kesahku tentang Mario.
Tentang banyak hal.
Yang dengan lembut membelai rambutku yang kusut dan berantakan.
Tak peduli bahkan jika aku mengentuk pintunya jam 3 pagi hanya karena aku kembali teringat tentang Mario.
Rei, begitu aku biasa memanggilnya.
Tanpa embel embel apa apa.
Si Rei Kecil, begitu aku menjulukinya.
Menjuluki gadis manis berkulit mocha dengan rambut sebahu yang tak pernah bosan dengan cepol atau kuncir duanya.
Aku tidak yakin berapa persisnya usianya.
Sama tak yakinnya dengan arti senyuman tipisnya atau sekedar riak riak kecil di mata lebarnya.
sudah cukup lama aku berteman dengannya
dengan gadis berkulit mocca yang jarang aku dengar suaranya.
aku tak ambil peduli dengan apa yang orang bilang tentangnya.
aku tak ingin mengusik privacy-nya.
terserah kata orang dia wanita jalang, seniman, atau mungkin pengangguran dengan warisan segudang.
Ya, aku memang beda.
itu selalu yang dijawabnya tiap kali aku mengatainya aneh, atau sekedar memancing gelombang di mata cokelatnya yang teduh.
aku juga, batinku.
Aku juga orang yang aneh.
Aku tak biasa.
Karena itu kamu bisa memahamiku.
Karena kita berdua sama sama aneh dengan hubungan pertemanan yang aneh juga.

Percobaan cintaku yang kedua kujalani dengan Tyo.
eorang pria mapan yang bekerja di kantor berita terkemuka ibukota.
dia sama denganku.
berdua kami suka berlama lama memandangi bintang.
atau menunggui hujan yang menderas dengan secangir cokelat hangat dan pelukan mesra yang memabukkan.
sejenak aku terbuai dalam mimpi indah yang kupikir takkan ada habisnya.
namun cintaku kembali kandas ketika akhirnya Tyo menyerah dan memilih untuk menikah dengan gadis pikihan ibunya daripada merajut mimpi kami yang manis, namun berbahaya.
dan aku pun kembali terluka.
sudah tak ada lagi gadis manis yang bisa mengelus rambutku saat aku menangis.
sudah tak ada lagi susu cokelat yang mengepul hangat sebagai teman saat aku mencurahkan semuanya.
karena itu aku memilih kopi.
dengan rasa asam-manisnya yang khas, bagiku itulah gambaran hidup.
malam sudah semakin larut.
secangkir kopi buatan cofee maker sudah tandas dari tadi.
sementara rokok cappucinno-ku sudah mencapai batang ke 7.
air mataku sudah serasa habis, tertumpah mengiringi penuturanku.
sekarang izinkan aku pergi, karena aku ingin sendiri.
selamat malam!

XileM

aku susuri jalan jalan yang dulu pernah kita lewati.

aku tapaki hutan hutan yang dulu pernah kita jelajahi.

aku rindu kamu,kalo kamu mau tau.

sedih rasanya kalo aku lewat di depan tokomu tapi nggak bisa menemui kamu.

disana selalu saja banyak wanita yang duduk, bicara menemanimu.

sementara aku disini, hanya bisa menatap sambil tersenyum getir.

sakit rasanya, kalo aku nggak bisa bicara denganmu, sementara aku disini hampir mati karena mencintaimu.

nggak adil buatku, ketika aku sekarat disini, kamu masih bisa bersenang senang disana dengan gadis-gadismu.

sementara aku?

bukannya aku sebegitu putus asanya, sehingga rela mati menanti cintamu.

banyak yang ingin miliki aku.

ya, setidaknya tubuhku..tapi aku terbelenggu.

terbelenggu dengan belenggu ciptaanku, saat aku belajar mencintai.mencintaimu.

aku bahkan sudah tak paham lagi arti mencintai.

aku hanya bisa mengucapkannya berulang ulang, seperti orang gila yang gusar karena kehilangan miliknya.

benda yang berharga, setidaknya bagi hatinya.

aku rindu, kalo kamu mau tau.

tapi aku juga nggak mau terus bersamamu.

jika mencintaimu merupakan sebuah kesalahan, maka berikanlah aku jalan yang benar. jangan terus mengurungku seperti kelinci yang hilang arah.

aku sakit, kalo kamu mau tau.

sakit karena dirimu.

merindukan, sekaligus membencimu.

menginginkan, sekaligus menolakmu.

aku rindu. rindu saat aku duduk bersamamu

menghisap sebatang rokok untuk berdua, atau sekedar bernyanyi lagu yang sumbang,tapi menyenangkan.

aku rindu.

rindu saat kamu menggambar diatas tubuhku.

aku suka melihatmu gugup seperti itu. lucu.

tapi kenapa kini aku yang terluka karenamu?

kupikir saat saat seperti itu takkan pernah berlalu.

tapi kenapa kini pergi?

aku rindu.

maka kuhisap rokokku yang ke tujuh buat hari ini.

kunikmati.

kuhembuskan kuat kuat asapnya.

berharap asap putih yang tipis itu menunjukkanku wajahmu.

tapi aku membencimu.

kubiarkan jalan itu melahapku.

menelanku dengan panas aspal yang berpadu dengan matahari bumi ini.

kubiarkan dia melumatku tuntas.

berharap kenangan kenangan itu juga akan lumat dengan tubuhku.

biar saja aku hancur, asal kenangan itu tak lagi bersamaku.

biar, aku pergi.

aku tak lagi ingin rindu.

apalagi rindu kamu.